20 Januari 2009

MANAJEMEN INVESTASI DAN PASAR MODAL

1. Bagaimana seharusnya portofolio di investasikan dalam berbagai macam saham yang tersedia, apakah portofolio tersebut dikelola secara aktif atau pasif.

Strategi pasif bisa dikatakan sebagai suatu tindakan yang dilakukan investor yang menjadikan kinerja indeks pasar sebagai tolak ukur dalam berinvestasi, para investor hanya berusaha berinvestasi pada portofolio yang sudah terdiversifikasi dengan baik. Adapun strategi yang dipakai didalam strategi pasif meliputi strategi beli dan tahan serta strategi mengikuti indeks.

Strategi beli dan tahan merupakan strategi dengan melihat nilai dari suatu saham, apabila diperkirakan suatu saat saham tersebut akan memiliki peningkatan nilai maka saham tersebut akan dibeli untuk selanjutnya ditahan, baru setelah nilai dari saham yang dibeli mengalami peningkatan baru saham tersebut akan dijual.

Strategi mengikuti indeks dalam prakteknya bisa digambarkan sebagai pembelian instrumen reksadana atau dana pensiun oleh investor yang merupakan duplikasi dari indeks pasar modal. Dari indeks yang ada, investor bisa memilih portofolio mana yang dimasa yang akan datang dapat memberikan gain pada investor serta menghindari loss yang mungkin terjadi pada investasi tersebut.

Biasanya yang dilakukan oleh penganut strategi ini adalah melakukan investasi pada saham-saham unggulan yang menyerupai indeks tertentu, seperti indeks LQ-45, indeks BI-40, atau IHSG dengan membeli saham-saham yang termasuk kedalam indeks tersebut, sehingga pergerakan portofolionya juga akan sama dengan pergerakan indeks yang dijadikan benchmark tersebut.

Sedangkan strategi aktif mempunyai tujuan untuk memperoleh return portofolio saham yang melebihi return portofolio saham yang diperoleh melalui strategi pasif. Para investor secara proaktif mencari informasi tambahan, bahkan tidak jarang ada yang berani membayar mahal untuk jasa konsultasi analis saham yang terbaik dengan tujuan untuk meningkatkan return yang diharapkan investor. Adapun strategi yang biasa diapakai investor dalam menggunakan strategi aktif yaitu: pemilihan saham, rotasi sektor, dan strategi momentum harga.

Bagi investor yang mempunyai dana besar, mereka dapat membeli jenis saham dari beberapa jenis sektor industri sekaligus dan kemudian di hold tentu tidak jadi masalah, karena naik turnnya indeks tersebut juga berarti naik turunnya nilai portofolio yang dimilikinya. Namun apakah strategi pasif juga dapat dilakukan oleh investor kecil yang mempunyai dana kecil, bisa saja investor hanya membeli satu dua saham dan melakukan strategi pasif namun dengan risiko yang cukup besar, karena begitu harga sahamnya turun tidak ada saham lain yang menutupinya. Berbeda dengan strategi aktif walau hanya memiliki satu dua saham saja tidak terlalu menjadi masalah karena investor tersebut dapat keluar masuk pasar kapan saja sepanjang hal tersebut menguntungkan menurutnya.

2. Evaluasi kinerja portofolio

Dalam penilaian kinerja portofolio investor perlu memperhatikan variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kinerja portofolio tersebut, seperti tingkat keuntungan yang diperoleh dan risiko yang akan ditanggung oleh investor. Pada tahap ini kinerja portofolio akan dibandingkan dengan portofolio yang lain dan dari hasil perbandingan tersebut diharapkan akan diketahui sejauh manakah portofolio yang telah dibentuk mampu memberikan kinerja yang memuaskan bagi investor.

Penilaian kinerja portofolio bisa dilakukan dengan hanya mempertimbangkan tingkat return saja. Namun alangkah sebaiknya dalam penilaian kinerja portofolio menggunakan kedua variabel tersebut, karena penilaian kinerja portofolio yang melibatkan variabel risiko akan mempunyai informasi mengenai tingkat return yang diharapkan dikaitkan dengan tingkat risiko yang akan dihadapi. Terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja portofolio dengan didasarkan pada gabungan pada risiko dan keuntungan (risk adjusted return), yaitu: indeks Sharpe, indeks Treynor, dan indeks Jensen.

Terdapat tiga pendekatan mengenai strategi dalam menginvestasikan portofolio kedalam berbagai macam saham yang tersedia, yaitu: strategic asset allocation, tactic asset allocation, dan dynamic asset allocation.

1. Strategic asset allocation

Strategic asset allocation merupakan strategi investasi dalam jangka panjang dimana pada strategi ini investor ingin menemukan bauran aktiva yang ideals dari risk dan return. Dalam strategi ini investor ingin menyeimbangkan portofolio yang memberikan return yang besar tapi dengan risk yang besar dengan portofolio yang memberikan risk yang kecil tapi dengan return yang kecil.

2. Tactic asset allocation

Tactic asset allocation merupakan strategi yang digunakan oleh investor dengan mengubah bauran aktiva dari portofolio yang dimilikinya dengan tujuan untuk mengimbangi fluktuasi nilai saham dalam pasar modal.

Ada beberapa atribut yang terdapat dalam tactic asset allocation, yaitu:

a. Merupakan penilaian secara obyektif dari hasil analisis portofolio dengan menggunakan regresi atau optimasi.

b. Investor cenderung berpatokan pada ukuran obyektif dari nilai prosfektif dalam kelompok aktiva yang dimilikinya. Investor mengetahui hasil dalam bentuk tunai, hasil saat jatuh tempo obligasi jangka panjang, dan hasil atas saham.

c. Investor cenderung melakukan pembelian apabila terjadi penurunan harga saham dan melakukan penjualan apabila terjadi peningkatan harga saham.

3. Dynamic asset allocation

Dynamic asset allocation merupakan strategi yang bauran aktivanya selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan kondisi pasar, sehingga memungkinkan para investor untuk membentuk kembali seluruh distribusi return dengan jalan mengubah bauran aktiva secara dinamis agar investor dapat mengembalikan risk dan tingkat perubahan surplus agar dapat langsung membentuk kendala kekurangan dalam strategi tersebut dengan tujuan dapat membentuk kembali distribusi return yang sesuai.

Dari ketiga pendekatan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam melakukan investasi dalam berbagai saham investor perlu menyeimbangkan dari portofolio yang memberikan return yang besar dengan risk yang besar pula, dan portofolio yang hanya memberikan return yang kecil tapi dengan risk yang kecil pula. Selain itu investor juga perlu melakukan analisis terhadap portofolio yang dimilikinya agar dapat mengimbangi fluktuasi nilai saham dalam pasar modal. Namun disamping kedua hal tersebut investor juga perlu untuk mengubah bauran aktiva yang dimilikinya secara dinamis agar dapat membentuk kembali distribusi return yang sesuai apabila terjadi perubahan kondisi dalam pasar modal.